Industri pertambangan dikenal sebagai salah satu sektor yang memiliki dampak besar terhadap lingkungan. Penebangan hutan, kerusakan tanah, hingga penggunaan bahan kimia berbahaya menjadi tantangan yang sulit dihindari. Namun, kemajuan sains menghadirkan solusi baru: biomining, yaitu teknik mengekstraksi logam menggunakan mikroorganisme. Teknologi ini menawarkan pendekatan yang lebih hijau, lebih murah, dan lebih efisien dibandingkan metode konvensional.

Biomining: Logam dengan Mikroorganisme Ramah Lingkungan

Biomining menggunakan bakteri atau mikroorganisme tertentu untuk memecah mineral dalam batuan sehingga logam seperti tembaga, emas, perak, dan nikel dapat terlepas secara alami. Mikroorganisme yang paling umum digunakan adalah Acidithiobacillus ferrooxidans, bakteri yang mampu hidup di lingkungan asam dan kaya logam.

Cara kerjanya sederhana:

Batuan yang mengandung logam ditempatkan dalam wadah atau kolam khusus.

Mikroorganisme ditambahkan untuk memulai proses pemecahan mineral.

Bakteri mengoksidasi sulfur dan besi, menghasilkan reaksi kimia yang melepaskan logam.

Logam kemudian dikumpulkan dari larutan hasil proses bakteri.

Proses ini disebut bioleaching dan digunakan secara luas di berbagai negara, termasuk Chili, Australia, dan Afrika Selatan.

Keunggulan Biomining Dibandingkan Metode Tradisional

Biomining tidak membutuhkan bahan kimia keras seperti sianida atau merkuri yang sangat berbahaya bagi lingkungan. Selain itu, metode ini mampu mengekstraksi logam dari batuan kadar rendah yang sebelumnya dianggap tidak ekonomis untuk ditambang.

Keunggulan lain biomining meliputi:

Mengurangi emisi karbon dari operasi pertambangan.

Biaya operasional lebih rendah.

Tidak memerlukan energi besar seperti smelting tradisional.

Aman digunakan di wilayah sensitif lingkungan.

Karena alasan ini, biomining banyak digunakan dalam industri tembaga, yang merupakan salah satu logam terpenting untuk kabel listrik, elektronika, dan teknologi energi terbarukan.